Environment

The Circular Economy Agenda in Indonesia

  • by

Indonesia still need a more robust and firm strategy and action plan to implement the Circular Economy. It is critical to bring together leaders across industry, government, and civil society to shift the global economy more aggressively toward the circular economy, and Through build back better, we can build a more resilience circular economy concept that could maintain economic growth in a long term.

Supporting Indonesia in Developing a National Circular Economy Strategy

  • by

Indonesia’s National Circular Economy Roadmap aims to create a clear strategy to help capture the benefits of a circular economy. Indonesia focus on 5 key areas of the Indonesian economy with high potential for circularity that can solve many of Indonesia’s problems. Where adoption of the identified circular economy opportunities could reduce waste generation in each sector by anywhere from 28-57% by 2030.

Memetik Duit dari Sampah Plastik

  • by

PEMBONGKARAN muatan truk terakhir di Bank Sampah Induk Gesit di kawasan Menteng Pulo, Jakarta Selatan, pada Senin, 27 Januari lalu, serba bergegas.

Moving toward a circular economy

  • by

Grace Desoe, Mathew Perry and Yi Peng
Plastic waste is a significant environmental issue in Indonesia, deeply impacting the whole country. Indonesia is second only to China as the world’s largest contributor to ocean plastic pollution. Four of its rivers – Brantas, Solo, Serayu and Progo – are on a list of the world’s dirtiest rivers, carrying the most waste into our oceans.

A 2016 World Economic Forum report estimated there will be more plastic in the ocean than fish by 2050. Experts agree that a global shift toward a ‘circular economy’ is needed; one that aims to eliminate waste and encourages continual use and re-use of resources.

In September 2018 the Indonesian government announced its plan to be on the front lines of this global shift towards circular models of waste management and to reduce plastic marine debris by 70 percent by 2025.

New marine debris action plan focuses on waste processing investment

  • by

As an effort to eradicate marine waste once and for all, the government has rolled out its latest action plan for authorities, businesses and communities to prevent plastic waste from ending up in the ocean by 2025.
Critics, however, doubt the latest plan will contribute to the country’s efforts in reducing marine debris due to poor waste management and reluctance from most companies to avoid single-use plastic products, which have been polluting the sea. The joint action plan, unveiled by Maritime Affairs and Investment Coordinating Minister Luhut Binsar Pandjaitan on April 22, will become a guideline for all stakeholders to prevent plastic pollution from leaking into rivers, lakes and seas.

Circulate Capital Beri Pinjaman Perusahaan Daur Ulang Plastik

Bisnis.com, JAKARTA – Circulate Capital melalui Circulate Capital Ocean Fund (CCOF) telah melakukan investasi perdananya di dua perusahaan daur ulang plastik yang berlokasi di Indonesia dan India, dengan total nilai investasi sebesar US$6 juta.
Investasi di Indonesia diberikan kepada PT Tridi Oasis Group (Tridi Oasis), yang memiliki spesialisasi dalam mendaur ulang botol polietilena tereftalat (PET) menjadi serpihan PET daur ulang (rPET), yang digunakan untuk memproduksi kemasan daur ulang dan tekstil.

CEO Circulate Capital Rob Kaplan mengatakan ketahanan infrastruktur penting seperti sampah dan daur ulang harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap kesehatan dan mata pencarian masyarakat.

RI–Belanda Kerja Sama Pengelolaan Sampah dan Perubahan Iklim

  • by

MENTERI Lingkungan hidup dan Kehutanan (LHK ) Siti Nurbaya Bakar menerima kunjungan Menteri Infrastruktur dan Manajemen Air Belanda, Cora Van Nieuwenhuizen di Ruang Kerja Menteri LHK, Jakarta, Senin (9/3).
Dalam pertemuan tersebut, keduanya sepakat untuk melanjutkan dan memperkuat kerja sama di bidang pengelolaan sampah, ekonomi sirkular, dan kualitas air, serta perubahan iklim yang tertuang dalam nota kesepahaman (MoU).
Menteri Siti mengatakan bahwa Belanda merupakan negara yang cukup maju dalam pengelolaan sampah dan limbah khususnya berbagai inovasi circular economy. Belanda juga menjadi salah satu dari sedikit negara anggota Uni Eropa yang telah berhenti mengekspor limbah plastik “Kami sangat menghargai hal tersebut, karena kebijakan nasional kami juga bukan untuk mengimpor limbah plastik,” ujar Menteri Siti.

Perjuangan Memerangi Limbah Tekstil Konveksi Rumahan di Bandung

  • by

Liputan6.com, Jakarta – Ibarat dua sisi mata pisau, konveksi rumahan sanggup menggerakkan ekonomi lokal, namun meninggalkan tantangan pengolahan limbah tekstil sisa produksi. Kebiasaan memutus rantai dengan membuang limbah tersebut sudah semestinya diubah.
Adalah Miracle, tim yang tengah berupaya memperkenalkan penerapan ekonomi sirkular di salah satu lokasi pusat konveksi rumahan, yakni di Desa Padasuka, Kutawaringin, Bandung, Jawa Barat. Para penerima beasiswa Sharing the Dream dari SCG ini terdiri dari 10 orang mahasiswa.

“Desa Padasuka dipilih karena sampah sisa produksi biasanya dibakar, lalu dibuang ke Sungai Terusan Ciwidey. Tindakan ini otomatis bakal ngaruh ke mana-mana, ke kota pasti kena. Makanya kami fokus menangani masalah di hulu,” kata salah satu anggota tim Miracle, Alvian.

Meneropong Prospek Ekonomi Sirkular sebagai Langkah Pelestarian Lingkungan

Nationalgeographic.co.id – Saat ini, ekonomi sirkular menjadi solusi inovatif untuk menyelesaikan persoalan sampah. Banyak negara sudah mulai mengimplementasikan model ekonomi tersebut karena dianggap mudah dicontoh serta dapat dilakukan oleh semua orang.
Ekonomi sirkular, menurut Forum Ekonomi Dunia (WEF), adalah sistem industri yang memanfaatkan material yang ada untuk membuat barang baru atau menambah nilai barang lama lewat pengelolaan limbah yang terintegrasi.

Salah satu negara yang berhasil menerapkan ekonomi sirkular adalah Denmark.

Dikutip dari Kompas.com (25/03/2019) Denmark menerapkan berbagai kebijakan untuk mendorong masyarakat agar mau mendaur ulang sampah plastik.

Circular Economy in Indonesia

  • by

Indonesia, the home of 267 million people, has contributed to some environmental problems. As the population and economy grow, it is terrifying to imagine that it will lead to more threats. Looking beyond, the behaviour of take–make–dispose is no longer relevant. Thus it needs a more integrated approach: the circular economy.