Progres Ekonomi Sirkular Di Indonesia

Image

KONTAN, 14 November 2019

Progres Ekonomi Sirkular di Indonesia

Jalal – Pendiri dan Komisaris
Wahyu Aris Darmono – Pendiri dan Komisaris
Perusahaan Sosial WISESA


Perhelatan ketiga The Indonesia Circular Economy Forum (ICEF) telah selesai. Tema yang diusung untuk acara yang diselenggarakan pada tanggal 11 dan 12 November 2019 ini adalah Towards a Sustainable Future through Circular Business Practices. Dengan tema itu hendak ditegaskan mengenai dua hal. Pertama adalah kompatibilitas antara sirkularitas dengan keberlanjutan. Kedua adalah bahwa praktik yang sangat penting dalam ekonomi sirkular adalah bisnis.

Dalam diskusi tentang ekonomi sirkular, perbandingan dengan ekonomi linear memang tak terhindarkan. Kalau ekonomi sirkular bertekad menghilangkan sampah melalui berbagai jalan termasuk desain awal yang tidak mengenal sampah, ekonomi linear masih terus menghasilkan sampah. Sebagai hasilnya, ekonomi linear sebetulnya sangat jelas tidak kompatibel dengan keberlanjutan. Dengan masalah terkait berbagai jenis sampah yang terus menumpuk, maka secara visual ketidakberlanjutan itu benar-benar bisa diketahui.

Indonesia yang merupakan negara nomor dua penghasil sampah plastik yang berakhir di lautan, juga nomor dua dalam kombinasi food loss dan food waste memang sudah sepatutnya memertanyakan praktik ekonomi linear yang hingga kini masih mendominasi. Kalau di level global kini diketahui bahwa baru ada 9,1% ekonomi yang masuk ke dalam kategori sirkular, dan ekonomi linear menempati 90,9%, di Indonesia dipastikan sirkularitas angkanya ada di bawah itu.

Melihat proporsi keuangan pemerintah yang hanya sekitar 1/7 dari seluruh ukuran ekonomi Indonesia, maka penentu terpenting dari sirkularitas adalah hubungan antara perusahaan dengan konsumennya. Tentu saja, belanja pemerintah perlu untuk diarahkan menuju sirkularitas juga, karena jumlahnya yang di atas Rp2.000 triliun itu juga sangat signifikan. Belanja itu, bila diarahkan dengan benar menjadi menuju sustainable purchasing melalui green public procurement, tentu akan membuat sektor swasta tergerak lebih cepat lagi.

Hal itulah yang bisa didengar oleh para peserta di sesi penutup ICEF. Pemerintah Indonesia, menurut wakil dari Kemenko Perekonomian, tahun depan akan meluncurkan panduan sekaligus projek percontohan green public procurement. Dalam kurun waktu lima tahun berikutnya, diharapkan praktiknya akan menjadi arus utama di dalam pemerintahan Indonesia, dan memicu praktik yang sama di sektor-sektor lainnya.

Komitmen yang sama juga dinyatakan oleh sektor swasta. PRAISE, Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment, adalah asosiasi yang telah bergerak sejak tahun 2010. Secara terbuka mereka menyatakan bahwa fase pengumpulan pengetahuan melalui riset mereka telah jalankan sejak 2010. Mereka memiliki berbagai inisiatif yang tersebar di seluruh Indonesia.

Perusahaan-perusahaan yang menjadi pendirinya—Unilever, Nestle, Indofood, Coca-Cola, Danone dan TetraPak—adalah di antara perusahaan yang paling tinggi komitmennya dalam menjawab tantangan tentang sampah. Secara terbuka mereka menyatakan bahwa dampak negatif pembungkus yang mereka pergunakan masihlah besar, namun mereka—baik sebagai PRAISE maupun masing-masing—menjelaskan komitmennya untuk terus memerbaiki diri secepat mungkin.

Demikian halnya dengan berbagai perusahaan sosial, organisasi masyarakat sipil, dan donor yang hadir. Seluruhnya memberi gambaran yang tegas soal komitmen masing-masing terhadap ekonomi sirkular. Dengan demikian, tujuan pertama dari ICEF, yaitu memperkuat komitmen untuk implementasi ekonomi sirkular jelas bisa dilihat perwujudannya sepanjang dua hari pelaksanaan.

Tujuan kedua, menjadi ajang belajar kolaboratif bagi para pengambil keputusan di seluruh sektor, jelas juga tercapai dengan sangat sukses. Para pelaku ekonomi sirkular mendapatkan banyak sekali kesempatan untuk saling bertukar pengetahuan lewat sesi plenary maupun breakout. Tidak ada aspek dan praktik dari ekonomi sirkular yang tak disentuh dalam ajang kali ini oleh para pembicara yang sungguh berbobot. Lebih jauh lagi, berbagai boot yang dibuka di luar ruang seminar juga menyediakan pengetahuan yang tak kalah banyaknya. Informasi yang disediakan demikian kayanya, membuat siapapun yang hadir akan bertambah pengetahuannya secara signifikan.

Menciptakan peluang kolaborasi di antara para peserta, yang menjadi tujuan ketiga, bisa pula dilihat tanda-tanda awalnya. Perbincangan di luar ruangan terdengar didominasi oleh perjanjian pertemuan untuk penjajakan lebih jauh, saling mengunjungi lokasi kerja, dan yang sejenisnya. Tentu akan sangat menarik kalau kemudian terdapat platform untuk melihat sejauh mana penjajakan yang terjadi di ICEF benar-benar memunculkan kolaborasi dalam projek-projek yang bisa mengarusutamakan ekonomi sirkular di Indonesia. Kalau di ajang ICEF tahun depan, yang akan diselenggarakan di Surabaya, kita bisa mendengarkan kasus-kasus kolaborasi yang tercipta, optimisme soal ekonomi sirkular dan keberlanjutan akan benar-benar dirasakan di negeri ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *