Walter Stahel dan Ekonomi Sirkular

Image

KONTAN, 31 Oktober 2019

Walter Stahel dan Ekonomi Sirkular

Jalal
Pendiri dan Komisaris
Perusahaan Sosial WISESA


Kebanyakan orang yang mendalami keberlanjutan menyatakan bahwa Dame Ellen MacArthur adalah orang yang paling berjasa untuk menelurkan paradigma ekonomi sirkular. Organisasi yang ia dirikan, Ellen MacArthur Foundation, pula yang memberikan definisi “A circular economy is one that is restorative by design, and which aims to keep products, components and materials at their highest utility and value, at all times” yang kemudian diserap ke dalam kamus Webster.

Tetapi, apakah dia sendiri setuju pada pernyataan kebanyakan aktivis keberlanjutan itu? Mungkin tidak. Dalam pengantar buku terbaru Walter Stahel, Circular Economy: A User’s Guide (2019), MacArthur menyatakan “No one has done more to make the case for the transition to a circular economy than my friend Walter Stahel. Not only because he has been doing it longer and with more care and humility than anyone else, but first and foremost because his words have proved to be just what our changing times need.” Kalau MacArthur adalah wajah utama ekonomi sirkular, agaknya Stahel adalah intelektual utama di balik wajah itu.

Kapan Stahel mulai bekerja di bidang ini sehingga MacArthur bilang dia sudah bekerja lebih lama daripada siapapun? Setidaknya sejak tahun 1982. Ketika itu, makalah yang ditulisnya, The Product Life Factor, mendapatkan begitu banyak penghargaan. Ide dasarnya adalah efisiensi energi dan materi yang semakin tinggi dan pencegahan timbulan sampah mulai dari proses desain, sehingga pada akhirnya bisa tercipta kondisi pemisahan (decoupling) antara penciptaan kesejahteraan dengan konsumsi material—yang konsekuensinya adalah deplesi sumberdaya alam dan menggunungnya sampah bersamaan dengan meningkatnya kesejahteraan.

Sebelum Stahel menuliskan makalah tersebut—dan sayangnya sampai sekarangpun masih menjadi arus utama—orang berpikir bahwa konsumsi energi dan materi yang semakin banyak itulah yang merupakan pendorong utama dan penanda kesejahteraan. Stahel memberi ide lain: kalau suatu produk diciptakan dengan visi tidak ada sampah, maka pemisahan itu bisa terjadi. Umat manusia bisa bertambah sejahtera tanpa sumberdaya alam mengalami deplesi dan masalah sampah yang semakin memusingkan.

Untuk bisa demikian, usul Stahel, ekonomi harus dipikirkan utamanya sebagai produksi jasa, bukan produksi barang. Orang sesungguhnya tidak membutuhkan mobil, melainkan membutuhkan mobilitas. Dengan demikian, perusahaan yang tadinya menjual motor atau mobil sebaiknya mengubah pemikiran menjadi penyedia jasa penyewaan kendaraan pribadi maupun umum. Pemikiran ini kemudian mendasari lahirnya berbagai perusahaan penyewaan kendaraan, mulai dari bentuk awalnya hingga seperti sekarang.

Orang juga sesungguhnya tidak butuh untuk memiliki karpet di rumahnya. Yang mereka butuhkan adalah pelapis lantai yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Ray Anderson, pendiri Interface, menangkap peluang ini dengan membuat perusahaan penyewaan karpet, yang bisa ditukarkan kapanpun si penyewanya berpikir sudah saatnya mengganti pelapis lantai tersebut.

Tetapi mengubah penjualan barang menjadi penjualan jasa, dari kacamata Stahel, hanyalah merupakan model bisnis yang lebih bisa menjamin dikumpulkannya kembali barang-barang yang disewakan tersebut. Pengumpulan kembali itu menjadi hal yang sangat krusial agar barang itu bisa diperbaiki, dimodifikasi, atau diubah ke bentuk yang berbeda sama sekali oleh produsennya. Seluruh hal itu sudah harus didesain sejak awal. Hanya dengan demikian saja dematerialisasi bisa terjadi dalam ekonomi, sehingga pengambilan virgin material dari alam bisa dikurangi dengan drastis.

Pemikiran Stahel itu sangat revolusioner, tetapi Stahel berbuat lebih jauh dibandingkan sekadar merumuskan konsep. Segera setelah makalah itu terkenal, dia pun mendirikan Product Life Institute di Geneva, Swiss. Dengan mengusung filosofi ‘reuse, repair, remanufacture, upgrade technologically’ Institut itu bekerja hingga akhirnya ekonomi sirkular menjadi kenyataan dan mulai menjadi dominan di berbagai negara maju. Kini, Tiongkok adalah salah satu pelakunya yang paling serius.

Bagaimana dengan Indonesia? Ada banyak upaya terkait dengan ekonomi sirkular ini, walau tampaknya tidak dimulai dari desain yang menghilangkan sampah. Sampah yang sudah telanjut besar kini banyak dicari cara pemanfaatannya, tidak sekadar ditaruh di tempat pembuangan akhir. ‘Akhir’ itu tidak ada dalam logika ekonomi sirkular, sehingga hal yang sangat penting dilakukan dalam konteks Indonesia adalah menemukan sebanyak mungkin manfaat dari apa yang tadinya dikira tak bisa lagi dimanfaatkan. Tentu, desain yang menghilangkan sampah juga mulai diterapkan.

Tahun 2019 adalah tahun ketiga dari penyelenggaraan Indonesia Circular Economy Forum (ICEF). Acara yang akan mendikusikan dan mendemonstrasikan seluruh kemajuan terkait praktik ekonomi sirkular di Indonesia itu bakal diselenggarakan pada tanggal 11-12 November mendatang di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta. Tulisan berikutnya akan mengulas apa saja perkembangan yang dipaparkan di acara yang selalu menarik perhatian ratusan peserta yang antusias itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *